animasi bergerak naruto dan onepiece
Rohis Al-Ishlah

Contact Person

Nama

Email *

Pesan *

Sabtu, 07 Desember 2013

HATI HATI ADA PENYELEWENGAN AGAMA

Hati-hati! Ini Bukan Islam!

Buku Panduan Shalat, tapi Kristen 


Mereka membuat-buat agama mereka sendiri, mencoba meniru tata cara kita beribadah untuk mengelabui umat yang tidak tahu (yang tidak mau belajar) agar bisa menerima agama mereka..

WASPADALAH … !
Ada Buku Panduan Shalat, tapi Kristen … !

Di dalam Al-Qur’an sering ditemukan kata “Aqimus Sholah” (tegakkan Shalat), sebagai bagian dari perintah Allah SWT kepada kaum Muslim untuk beribadah.

Tapi jangan keliru, belakangan ini, kalangan Kristen Otodox Syiria (KOS) juga menggunakan bahasa serupa yang juga mirip dengan bahasa Al-Qur’an ini.

Kalangan Kristen Ortodox Syiria menerbitkan buku berjudul “Shalat Rabbaniyah” yang ditulis oleh Ignatius Bambang Soetawan.

Isi buku setebal 120 halaman tersebut adalah tafsir ringkas (refleksi) tentang “Doa Bapa Kami” yang dikutip dari Injil Matius 6: 9-13.

Bambang adalah alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teoogi Prajnawidya Yogyakarta, 1971.

Selain buku mirip bahasa khas Islam tersebut, Yayasan Misi Orthodoxia yang diketuai oleh Pendeta Yusuf Roni juga menerbitkan buku panduan shalat kristen yang berjudul “Kitabus Sab’us-Shalawat” (shalat 7 waktu).

Jika tidak paham, peristiwa ini dapat mengecoh umat Islam.

Apalagi selain menggunakan bahasa yang mirip Al-Qur’an, kalangan Kristen Ortodok Syiria juga menggunakan simbol-simbol mirip Islam. Seperti jilbab dll.

Semoga ini bisa menjadi informasi untuk semua kaum Muslim …

SIlahkan disebarkan semaksimal mungkin. Demi kebaikan ummat Islam bersama.

Ya Allah semoga kami semua, dapat tetap istiqomah di jalanMu.

Aamiin.

(Muhammad Faisal, S.Pd, M.MPd/Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat)

(nahimunkar.com)

Kamis, 05 Desember 2013

Memberi Nasihat Sebagai Pelengkap Persahabatan

Nasihat adalah tuntunan (ajaran) agama yang dianjurkan oleh Allah SWT dan RasulNya. Ia merupakan salah satu hal yang di baiátkan oleh Nabi Shalallohuálaihiwassalam kepada para sahabatnya.
Jarir bin Abdillah r.a pernah menyatakan :
"Aku berbaiat kepada Rasulullah saw untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat dan menasehati setiap muslim. (HR.Al-Bukhari 1/20)"
 hal senada juga terungkap dalam hadis riwayat Tamim bin Aus Ad-Dari yang menyatakan bahwa nabi Shalallohuálaihiwassalam bersabda :
“Agama adalah nasehat” – Beliau mengulanginya tiga kali. Kami (para sahabat) bertanya: “Bagi siapa, wahai Rasulullah?”Beliau bersabda: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin pada umumnya.” (HR. Muslim).
 maksud dari pernyataan : "Agama adalah nasihat" yaitu bahwa nasihat adalah merupakan praktik agama yang paling utama dan paling sempurna [kasyful Musykil min Hadis Ash-Shahuhaun, ibnul Jauzi 4/219]
Ibnul Jauzi mengatakan : "Ketahuilah bahwa nasihat bagi Allah maksudnya ialah memperjuangkan agama Allah dan membelanya dari segala bentuk kemusyrikan. Kendati sebenarnya Allah sama sekali tidak membutuhkan hal itu, akan tetapi manfaat dari tindakan tersebut kembali kepada manusia yang melaksanakannya.
               begitu pula nasihat bagi kitabNya berarti melakukan pembelaan terhadapnya dan senantiasa membacanya.
                sedangkan nasihat bagi RasulNya dilakukan dengan cara melakukan sunnahnya dan mendakwahkannya.

                  Sementara nasihat bagi para pemimpin kaum muslimin berarti taat kepadanya, turut berjihad bersamanya, memelihara bai'at (janji setia) kepadanya dan memberikan nasihat (saran) kepadanya tanpa disertai pujian yang melenakan.
                   Adapun nasihat bagi kaum muslimin yang awam (kebanyakan) berarti segala keinginan yang baik bagi mereka, termasuk didalamnya mengajarkan kewajiban agama mereka dan menunjukkan kebenaran kepada mereka (kasyful Musykil min Hadis Ash-shahihain, Ibnu Jauzi, 4/219) 
                   Dengan demikian maka memberikan nasihat kepada kawan dilkakukan dengan keinginan yang baik baginya, menunjukan kebenaran kepadanya, tidak menipu ataupun berbasa-basi dalam urusan agama Allah. Termasuk didalamnya adalah amar ma'ruf nahi mungkar, walaupun hal itu berlawanan dengan hawa nafsu dan tradisi hidupnya.



(sumber : Panduan Etika Muslim Sehari-hari)


Rabu, 04 Desember 2013

Derajat Hadits Merajalelanya Musik Dan Penyanyi


Bismillahirrahmaanirrahiim..

Dicatat oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir (5672),  juga Ar Ruyani dalam Musnad nya (1041),

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي الطَّاهِرِ بْنِ السَّرْحِ الْمُضَرِيُّ ، ثنا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ ح ، وَحَدَّثَنَا أَبُو حُصَيْنٍ الْقَاضِي ، ثنا يَحْيَى الْحِمَّانِيُّ ، قَالا : أَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَسْلَمَ ، حَدَّثَنِي أَبُو حَازِمٍ ، حَدَّثَنِي سَهْلُ بْنُ سَعْدٍ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ خَسْفٌ ، وَقَذْفٌ ، وَمَسْخٌ ” ، قِيلَ : وَمَتَى ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : ” إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَازِفُ وَالْقَيْنَاتُ ، وَاسْتُحِلَّتِ الْخَمْرُ “
‘Amr bin Abi Ath Thahir bin As Sarh Al Mudharri menuturkan kepadaku, Sa’id bin Abi Maryam danAbu Hushain Al Qadhi menuturkan kepadaku, Yahya Al Himmani menuturkan kepadaku bahwa mereka berdua berkata, Abdurrahman bin Aslam mengabarkan kepada kami, Abu Hazimmenuturkan kepadaku, Sahl bin Sa’ad menuturkan kepadaku, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
Di akhir zaman nanti akan ada (peristiwa) di mana orang-orang ditenggelamkan (ke dalam bumi), dilempari batu dan diubah wajahnya menjadi buruk”.
Beliau ditanya, “Kapankah hal itu terjadi wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Ketika alat-alat musik dan para penyanyi wanita telah merajalela, serta khamr di anggap halal”.

Derajat Hadits

Semua perawi hadits ini tsiqah kecuali Yahya Al Himmani dan Abdurrahman bin Aslam. Yahya bin Abdil Hamid Al Himmani, perawi yang terpengaruh pemikiran syi’ah, ditsiqahkan oleh Yahya bin Ma’in namun banyak para ulama yang men-jarh beliau dengan keras diantaranya Imam Ahmad berkata: “terkadang ia berdusta terang-terangan”. Namun yang tepat insya Allah, statusnya dhaif, sebagaimana dinyatakan oleh Adz Dzahabi, Al Bukhari dan An Nasa-i. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam statusnya dhaif sebagaimana dikatakan Yahya bin Ma’in, Al Bukhari dan An Nasa-i.
Diriwayatkan dengan jalan lain oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath (7083),
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُعَافَى بْنِ أَبِي حَنْظَلَةَ الصَّيْداويُّ ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ صَدَقَةَ الْجُبْلانِيُّ ، نَا مُحَمَّدُ بْنُ خَالِدٍ الْوَهْبِيُّ ، عَنْ زِيَادِ بْنِ أَبِي زِيَادٍ ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ ، رَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” يَكُونُ فِي هَذِهِ الأُمَّةِ خَسْفٌ ، وَقَذْفٌ ، وَمَسْخٌ ، فِي مُتَّخِذِي الْقَيْنَاتِ ، وَلابِسِي الْحَرِيرِ ، وَشَارِبِي الْخُمُورِ “
Muhammad bin Mu’afa bin Abi Hanzhalah Ash Shaidawi menuturkan kepadaku, Muhammad bin Shadaqah Al Jublani menuturkan kepadaku, Muhammad bin Khalid Al Wahbi menuturkan kepadaku, dari Ziyad bin Abi Ziyad, dari Abu Sa’id, ia me-marfu’-kan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda: “Di umat ini kelak nanti akan ada (peristiwa) di mana orang-orang ditenggelamkan (ke dalam bumi), dilempari batu dan diubah wajahnya. Itu terjadi pada para penyanyi, para lelaki yang memakai sutra dan para peminum khamr”.
Muhammad bin Shadaqah Al Jublani statusnya shaduq, Ziyad bin Abi Ziyad Al Jashash dikatakan oleh Ibnu Hajar: “ia dhaif”. Sedangkan perawi lainnya tsiqah. Sehingga sanad ini lemah namun bisa menjadi syahid.
Diriwayatkan dengan jalan lain oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir (3333),
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْحَاقَ التُّسْتَرِيُّ ، ثنا عَلِيُّ بْنُ بَحْرٍ ، ثنا قَتَادَةُ بْنُ الْفُضَيْلِ الرَّهَاوِيُّ ، قَالَ : سَمِعْتُ هِشَامَ بْنَ الْغَازِ يُحَدِّثُ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ ، أَنَّ أَبَا مَالِكٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” يَكُونُ فِي أُمَّتِي الْخَسْفُ وَالْمَسْخُ وَالْقَذْفُ ” ، قُلْنَا : فِيمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : ” بِاتِّخاذِهِمُ الْقَيْنَاتِ ، وَشُرْبِهِمُ الْخُمُورَ “
Al Husain bin Ishaq At Tastari menuturkan kepadaku, Ali bin Bahr menuturkan kepadaku, Qatadah bin Al Fudhail Ar Rahawi menuturkan kepadaku, aku mendengar Hisyam bin Al Ghaz berkata, dariayahnya, dari kakeknya, bahwa Abu Malik berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Di umat ini kelak nanti akan ada (peristiwa) di mana orang-orang ditenggelamkan (ke dalam bumi), dilempari batu dan diubah wajahnya”. Beliau ditanya, “Karena apa hal itu terjadi wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Karena banyaj orang menjadi penyanyi dan banyak orang minum khamr”.
Al Ghaz tidak ditemukan jarh wa ta’dil-nya namun Hisyam (perawi tsiqah) meriwayatkan darinya, sehingga statusnya majhul hal. Sedangkan ayahnya, Abu Al Ghaz Rabi’ah bin ‘Amr, statusnya mukhtalif fii shahbatihi namun Ad Daruquthni men-tsiqah-kannya. Sedangkan yang lainnya tsiqah. Karena adanya perawi yang majhul sanad ini tidak bisa menjadi syahid.
Diriwayatkan dengan jalan lain, dicatat dalam Jami’ At Tirmidzi (2142), Musnad Ar Ruyani (146)
نا ابْنُ إِسْحَاقَ ، أنا أَبُو مُوسَى الْهَرَوِيُّ ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْقُدُّوسِ ، قَالَ : حَدَّثَنِي الأَعْمَشُ ، عَنْ هِلالِ بْنِ يَسَافٍ ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” يَكُونُ فِي هَذِهِ الأُمَّةِ خَسْفٌ وَقَذْفٌ وَمَسْخٌ ” ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَتَى ذَاكَ ؟ قَالَ : ” إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَازِفُ ، وَكَثُرَتِ الْقِيَانُ ، وَشُرْبُ الْخُمُورِ “
Ibnu Ishaq mengabarkan kepadaku, Abu Musa Al Harawi mengabarkan kepadaku, Abdullah bin Abdil Quddus menuturkan kepadaku, Al A’masy menuturkan kepadaku, dari Hilal bin Yasafdari Imran bin Hushain, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda: “Di umat ini kelak nanti akan ada (peristiwa) di mana orang-orang ditenggelamkan (ke dalam bumi), dilempari batu dan diubah wajahnya”. Beliau ditanya, “Kapankah hal itu terjadi wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Ketika alat-alat musik merajalela,  banyak muncul para penyanyi dan banyak orang minum khamr”.
Semua perawinya tsiqah kecuali Abdullah bin Abdil Quddus. Ia orang syiah dan statusnya dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Yahya bin Ma’in, An Nasa-i dan Ad Daruquthni. Sehingga sanad ini juga lemah namun bisa menjadi syahid.
Diriwayatkan dengan jalan lain, dicatat Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis (117) dari jalan Shalih bin Abdillah,
صالح بْن عَبْدِ اللَّهِ ، ثنا الفرج بْن فضالة ، عَنْ يَحْيَى بْن سَعِيد ، عَنْ مُحَمَّد بْن عُمَر بْن عَلِيّ بْن أبي طالب ، عَنْ عَلِيّ بْن أبي طالب رَضِيَ اللَّهُ عنه ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِذَا فَعَلَتْ أُمَّتِي خَمْسَ عَشْرَةَ خِصْلَةً حَلَّ بِهَا الْبَلاءُ فَذَكَرَ مِنْهَا إِذَا اتُّخِذَتِ الْقِيَانُ وَالْمَعَازِفُ “
Dari Shalih bin AbdillahAl Faraj bin Fadhalah menuturkan kepadaku, dari Yahya bin Sa’id, dariMuhammad bin Umar bin Ali bin Abi Thalib, dari Ali bin Abi Thalibradhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Jika umatku melakukan 15 perbuatan, maka mereka layak mendapatkan bala bencana”. Beliau menyebutkan diantaranya berprofesi menjadi penyanyi dan bermain alat musik.
Al Faraj bin Fadhalah statusnya dhaif. Adapun yang lainnya perawi tsiqah. Sehingga sanad ini juga lemah namun bisa menjadi syahid.
Diriwayatkan dengan jalan lain oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath (5203),
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ النَّضْرِ الأَزْدِيُّ ، قَالَ : نَا بِشْرُ بْنُ الْوَلِيدِ ، قَالَ : نَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْيَمَامِيُّ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” وَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ لا تَنْقَضِي الدُّنْيَا حَتَّى يَقَعَ بِهِمُ الْخَسْفُ ، وَالْمَسْخُ ، وَالْقَذْفُ ” ، قَالُوا : وَمَتَى ذَاكَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ ؟ قَالَ : ” إِذَا رَأَيْتَ النِّسَاءَ رَكِبْنَ السُّرُوجَ ، وَكَثُرَتِ الْقَيْنَاتُ ، وَشُهِدَ بِشَهَادَاتِ الزُّورِ ، وَشَرِبَ الْمُصَلُّونَ فِي آنِيَةِ أَهْلِ الشِّرْكِ : الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ ، وَاسْتَغْنَى الرِّجَالُ بِالرِّجَالِ ، وَالنِّسَاءُ بِالنِّسَاءِ ، فَاسْتَدْفِرُوا وَاسْتَعِدُّوا ” ، وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ فَوَضَعَهَا عَلَى جَبْهَتِهِ يَسْتُرُ وَجْهَهُ
Muhammad bin Nadhar Al Azdi menuturkan padaku, Bisyr bin Al Walid mengabarkan kepadaku,Sulaiman bin Dawud Al Yamami mengabarkan padaku, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Demi Dzat yang mengutusku dengan Al Haq, sungguh dunia tidak akan berakhir sebelum terjadi peristiwa orang-orang ditenggelamkan (ke dalam bumi), diubah wajahnya, dan dilempari batu”. Beliau ditanya: ‘Kapan itu terjadi wahai Nabi?’. Beliau menjawab: “Ketika kalian melihat wanita berkendara di atas pelana, dan banyak penyanyi wanita, dan banyak orang yang bersumpah palsu, dan banyak prang-orang yang masih shalat namun mereka minum dari bejana kaum musyrikin yang terbuat dari emas dan perak, lelaki merasa cukup berhubungan dengan lelaki, dan wanita merasa cukup dengan wanita. Maka waspadalah dan bersiaplah“. Beliau lalu memberi isyarat dengan menutup dahi dan wajahnya menggunakan tangannya.
Kelemahan terdapat pada Sulaiman bin Dawud Al Yamami, Al Bukhari berkata tentangnya: “munkarul hadits“. Juga pada Yahya bin Abi Katsir, perawi yang masyhur sebagai mudallis, meriwayatkan dengan lafadz ‘an. Sehingga sanad ini sangat lemah dan tidak bisa menjadi syahid.
Diriwayatkan dengan jalan lain, dicatat oleh Ibnu Abid Dunya dalam Dzammul Malahi (4),
حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ مَحْبُوبٍ , قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ , قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مَعْشَرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ , عَنْ عَائِشَةَ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَكُونُ فِي أُمَّتِي خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ» قَالَتْ عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ , وَهُمْ يَقُولُونَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ قَالَ: «إِذَا ظَهَرَتِ الْقِيَانُ , وَظَهَرَ الرِّبَا , وَشُرِبَتِ الْخَمْرُ , وَلُبِسَ الْحَرِيرُ , كَانَ ذَا عِنْدَ ذَا»
Al Hasan bin Mahbub menuturkan padaku, Abu Nadhr Hasyim bin Al Qasim menuturkan kepadaku,Abu Ma’syar menuturkan padaku, dari Muhammad bin Munkadir, dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Di umat ini kelak nanti akan ada (peristiwa) di mana orang-orang ditenggelamkan (ke dalam bumi), dilempari batu dan diubah wajahnya”. Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu bersyahadat laailaaha illallah?“. Beliau menjawab, “Ya, itu terjadi ketika banyak penyanyi, riba merajalela, khamr banyak diminum, sutra banyak dipakai lelaki, lalu begini dan begitu”.
Abu Ma’syar di sini adalah Nazif bin Abdirrahman As Sindi, statusnya dhaif. Al Husain bin Mahbub tidak ditemukan jarh wa ta’dil-nya namun Ibnu Abid Dunya meriwayatkan darinya, sehingga ia statusnya majhul haal. Selainnya, tsiqah. Sehingga sanad ini sangat lemah dan tidak bisa menjadi syahid.
Dan masih ada beberapa jalan lagi yang tidak lepas dari kelemahan.
Sampai disini kita bisa lihat bahwa hadits ini memiliki beberapa banyak jalan yang saling menguatkan dan mengangkat derajatnya minimal menjadi hasan li ghairihi. Namun terdapat masalah lain, yaitu terdapat jalan lain secara mursal, dicatat dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (36843)
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنِ ابْنِ سَابِطٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ فِي أُمَّتِي خَسْفًا وَمَسْخًا وَقَذْفًا ” , قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ , وَهُمْ يَشْهَدُونَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ؟ فَقَالَ : ” نَعَمْ , إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَازِفُ وَالْخُمُورُ وَلُبِسَ الْحَرِيرُ “
Waki’ menuturkan kepadaku, dari Abdullah bin ‘Amr bin Murrah, dari ayahnya, dari Ibnu Sabith, ia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Di umat ini kelak nanti akan ada (peristiwa) di mana orang-orang ditenggelamkan (ke dalam bumi), dilempari batu dan diubah wajahnya”. Beliau ditanya, “wahai Rasulullah, apakah mereka orang-orang yang bersyahadat laailaaha illallah?” Beliau menjawab, “Iya, itu terjadi ketika alat-alat musik merajalela, banyak muncul para penyanyi dan banyak orang minum khamr, serta banyak orang memakai sutra”.
Semua perawinya tsiqah kecuali Abdullah bin ‘Amr bin Murrah, ia berstatus shaduq.
Para ulama hadits berbeda pendapat mengenai masalah ta’lil al maushul bil irsal, yaitu apakah hadits yang maushul menjadi cacat jika ternyata ada jalan lain yang mursal. Syaikh Jamaluddin Al Qasimi menjelaskan:
فقد كثر إعلال الموصول بالإرسال، والمرفوع بالوقف إذا قوي الإرسال أو الوقف بكون راويهما أضبط أو أكثر عددًا على الاتصال أو الرفع وقد يعلون الحديث
“Banyak terjadi ta’lil (pencacatan) terhadap hadits maushul karena terdapat jalan lain yang mursal. Juga terhadap hadits mar’fu karena terdapat jalan lain yang mauquf. Jika jalan yang mursal atau mauquf itu perawinya lebih kuat dari sisi dhabt-nya atau lebih banyak jalan-jalannya dibanding dengan yang muttashil atau marfu, maka ketika itu haditsnya menjadi tercatati” (Qawa’id At Tahdits, 131)
Sehingga jika kita tinjau data-data di atas, jika kita gabungkan jalan-jalan yang maushul, hadits ini tidak bisa tercacati oleh mursal-nya sebab jalan-jalannya lebih banyak dan kualitas perawinya lebih bagus karena saling menguatkan.
Kesimpulannya, derajat hadits ini hasan, sebagaimana dinyatakan Asy Syaukani (Nailul Authar, 8/262), bahkan Al Albani menyatakan hadits ini bisa terangkat sampai derajat shahih (Shahih At Targhib, 3665). Wallahu’alam.
Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

Serial 15 Alam Jin: Setan Bisa Berubah Wujud Jadi Manusia


Bismillahirrahmaanirrahiim..
Di antara kemampuan yang diberikan pada jin atau setan adalah setan dapat berubah bentuk menjadi manusia. Berikut di antara buktinya.

Setan Menyamar Menjadi Suraqah bin Malik

Setan milik orang musyrik pada saat perang Badr pernah datang dalam bentuk Suraqah bin Malik. Kaum musyrikin pun dijanjikan kemenangan olehnya. Lantas turun firman Allah,
وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ
Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu.” (QS. Al Anfaal: 48).
Namun ketika dua pasukan berhadapan dan datang pula pertolongan malaikat dari langit, setan tersebut pun lari,
فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ
Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah.” (QS. Al Anfaal: 48).
Ibnu Katsir berkata, “Setan datang dalam wujud Suraqah bin Malik bin Ja’syam, pembesar Bani Madlaj”. Setelah itu Ibnu Katsir menyebutkan beberapa riwayat yang menyebutkan hal ini di antaranya diriwayatkan oleh Ath Thobari dengan sanad tsabit (shahih) dari jalur ‘Ali. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 4: 216-217.

Kisah Setan dan Sahabat Abu Hurairah

Ketika Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ditugaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamuntuk menjaga makanan zakat, malam harinya ada jin yang berubah wujud jadi orang remaja dan mencuri. Ketika ditangkap dan hendak dilaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berusaha memelas dan berjanji tidak akan kembali. Tapi dia dusta, dia tetap kembali, hingga terjadi selama 3 malam. Di malam ketiga, Abu Hurairah tidak memberi ampun dan akan dilaporkan kepada Rasulullah. Setelah diajari bacaan ayat kursi, Abu Hurairah melepaskannya. Pagi harinya, kejadian ini beliau sampaikan kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda,
أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ
Kali ini dia benar, meskipun aslinya dia pendusta.” (HR. Bukhari no. 2311).
Dua kisah di atas menunjukkan bahwa setan bisa saja berubah wujud jadi manusia. Dan setan pun bisa berubah bentuk jadi hewan seperti keledai, anjing dan yang paling sering adalah anjing hitam. Insya Allah, perubahan wujud jadi hewan ini akan dikaji dalam serial ke-16.
Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:
  • ‘Alamul Jin wasy Syaithon, Syaikh Prof. Dr. ‘Umar bin Sulaiman bin ‘Abdullah Al Asyqor, terbitan Darun Nafais, cetakan kelimabelas, tahun 1423 H.
  • Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.

Sabtu, 30 November 2013

Malas Beraktivitas, Mungkin Anda Lalai dari Dzikir Pagi

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
An Nawawi dalam Shohih Muslim membawakan bab dengan judul “Keutamaan tidak beranjak dari tempat shalat setelah shalat shubuh dan keutamaan masjid“.
Dalam bab tersebut terdapat suatu riwayat dari seorang tabi’in –Simak bin Harb-. Beliaurahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh,
أَكُنْتَ تُجَالِسُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
“Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk?”
Jabir menjawab,
نَعَمْ كَثِيرًا كَانَ لاَ يَقُومُ مِنْ مُصَلاَّهُ الَّذِى يُصَلِّى فِيهِ الصُّبْحَ أَوِ الْغَدَاةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِى أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ.
“Iya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallamberdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallamhanya tersenyum saja.” (HR. Muslim no. 670)
An Nawawi mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran berdzikir setelah shubuh dan mengontinukan duduk di tempat shalat jika tidak memiliki udzur (halangan). Al Qadhi Husain mengatakan bahwa inilah sunnah yang biasa dilakukan oleh salaf dan para ulama. Mereka biasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdzikir dan berdo’a hingga terbit matahari.” (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/29, Asy Syamilah)
Membaca Dzikir Pagi Menjadi Kebiasaan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
Dari Abu Wa’il, dia berkata, “Pada suatu pagi kami mendatangi Abdullah bin Mas’ud selepas kami melaksanakan shalat shubuh. Kemudian kami mengucapkan salam di depan pintu. Lalu kami diizinkan untuk masuk. Akan tetapi kami berhenti sejenak di depan pintu. Lalu keluarlah budaknya sembari berkata, “Mari silakan masuk.” Kemudian kami masuk sedangkan Ibnu Mas’ud sedang duduk sambil berdzikir.
Ibnu Mas’ud lantas berkata, “Apa yang menghalangi kalian padahal aku telah mengizinkan kalian untuk masuk?”
Lalu kami menjawab, “Tidak, kami mengira bahwa sebagian anggota keluargamu sedang tidur.”
Ibnu Mas’ud lantas bekata, “Apakah kalian mengira bahwa keluargaku telah lalai?”
Kemudian Ibnu Mas’ud kembali berdzikir hingga dia mengira bahwa matahari telah terbit. Lantas beliau memanggil budaknya, “Wahai budakku, lihatlah apakah matahari telah terbit.” Si budak tadi kemudian melihat ke luar. Jika matahari belum terbit, beliau kembali melanjutkan dzikirnya. Hingga beliau mengira lagi bahwa matahari telah terbit, beliau kembali memanggil budaknya sembari berkata, “Lihatlah apakah matahari telah terbit.” Kemudian budak tadi melihat ke luar. Jika matahari telah terbit, beliau mengatakan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَقَالَنَا يَوْمَنَا هَذَا
“Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami berdzikir pada pagi hari ini.” (HR. Muslim no. 822)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Menjadi Malas Beraktivitas Disebabkan Lupa Dzikir Pagi
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah orang yang gemar beribadah dan bukanlah orang yang kelihatan bengis sebagaimana anggapan sebagian orang. Kita dapat melihat aktivitas beliau di pagi hari sebagaimana dikisahkan oleh muridnya –Ibnu Qayyim Al Jauziyah.-
Ketika menjelaskan faedah dzikir bahwa dzikir dapat menguatkan hati dan ruh, Ibnul Qayim mengatakan,
“Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah suatu saat shalat shubuh. Kemudian (setelah shalat shubuh) beliau duduk sambil berdzikir kepada Allah Ta’ala hingga pertengahan siang. Kemudian berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-.” (Al Wabilush Shoyib min Kalamith Thoyib, hal.63, Maktabah Syamilah)
Di Antara Dzikir Pagi yang Ringan yang Bisa Rutin Dibaca
[1] Membaca istigfar sebanyak 100x: Astagfirullah wa atubu ilaih
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطٌّ إِلاَّ اِسْتَغْفَرْتُ اللهَ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari, pen) kecuali aku telah beristigfar pada Allah sebanyak 100 kali.” (HR. An Nasa’i. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 1600. Lihat Al Mu’jam Al Awsath lith Thobroniy, 8/432, Asy Syamilah)
[2] Membaca sayyidul istighfar 1x
Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Penghulu istigfar adalah apabila engkau mengucapkan,
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
[Allahumma anta robbi laa ilaha illa anta, kholaqtaniy wa ana 'abduka wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatho'tu. A'udzu bika min syarri maa shona'tu, abu-u laka bi ni'matika 'alayya wa abu-u bi dzanbi. Faghfirlii fa innahu laa yaghfirudz dzunuba illa anta] “Ya Allah! Engkau adalah Rabbku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari no. 6306)
[3] Membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq, dan An Naas masing-masing sebanyak 3x
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِى وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ »
“Membaca Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlas) dan Al Muwa’idzatain (surat Al Falaq dan An Naas) ketika sore dan pagi hari sebanyak tiga kali akan mencukupkanmu dari segala sesuatu).” (HR. Abu Daud no. 5082. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Jika ingin mengetahui dan mengamalkan dzikir-dzikir pagi lainnya, silakan dilihat di kitab Hisnul Muslim (karya Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni hafizhohullah, sudah banyak diterjemahkan) atau buku Do’a dan Dzikir karya Al Ustadz Yazid bin Abdil Qodir Jawas hafizhohullah.
Semoga Allah menjadikan waktu pagi kita menjadi waktu yang penuh berkah. Semoga Allah memudahkan kita melakukan amalan yang bermanfaat di dalamnya.
***
Di pagi hari yang penuh berkah, 9 Rabi’ul Akhir 1430 H

Senin, 25 November 2013

Ilmu Dipelajari untuk Diamalkan


Bismillahirrahmaanirrahiim..
Ilmu dipelajari untuk diamalkan, bukan hanya sekedar menambah wawasan dan kepintaran, apalagi jika diniatkan untuk membodoh-bodohi orang lain.
Malik bin Dinar berkata,
من طلب العلم للعمل وفقه الله ومن طلب العلم لغير العمل يزداد بالعلم فخرا
“Barangsiapa yang mencari ilmu (agama) untuk diamalkan, maka Allah akan terus memberi taufik padanya. Sedangkan barangsiapa yang mencari ilmu, bukan untuk diamalkan, maka ilmu itu hanya sebagai kebanggaan (kesombongan)” (Hilyatul Auliya’, 2: 378).
Dalam perkataan lainnya, Malik bin Dinar berkata,
إذا تعلم العبد العلم ليعمل به كسره علمه وإذا تعلم العلم لغير العمل به زاده فخرا
“Jika seorang hamba mempelajari suatu ilmu dengan tujuan untuk diamalkan, maka ilmu itu akan membuatnya semakin merunduk. Namun jika seseorang mempelajari ilmu bukan untuk diamalkan, maka itu hanya akan membuatnya semakin sombong (berbangga diri).” (Hilyatul Auliya’, 2: 372).
Wahb bin Munabbih berkata,
مثل من تعلم علما لا يعمل به كمثل طبيب معه دواء  لا يتداوى به
“Permisalan orang yang memiliki ilmu lantas tidak diamalkan adalah seperti seorang dokter yang memiliki obat namun ia tidak berobat dengannya.” (Hilyatul Auliya’, 4: 71).
Ibrahim Al Harbi berkata,
حملني أبي الى بشر بن الحارث فقال يا أبا نصر ابني هذا مشتهر بكتابة الحديث والعلم فقال لي يا بني هذا العلم ينبغي أن يعمل به فان لم يعمل به كله فمن كل مائتين خمسة مثل زكاة الدراهم
“Ayahku pernah membawaku pada Basyr bin Al Harits, lanta ia berkata, “Wahai Abu Nashr (maksudnya: Basyr bin Al Harits), anakku sudah masyhur dengan penulisan hadits dan ia terkenal sebagai orang yang berilmu.” Lantas Basyr menasehatiku, “Wahai anakku, namanya ilmu itu mesti diamalkan. Jika engkau tidak bisa mengamalkan seluruhnya, amalakanlah 5 dari setiap 200 (ilmu) seperti halnya hitungan dalam zakat dirham -perak- (yaitu 1/40 atau 2,5%).” (Hilyatul Auliya’, 8: 347)
Syaqiq Al Balkhi berkata,
الدخول في العمل بالعلم والثبات فيه بالصبر والتسليم إليه بالإخلاص فمن لم يدخل فيه بعلم فهو جاهل
“Masuk dalam amalan hendaklah diawali dengan ilmu. Lalu terus mengamalkan ilmu tersebut dengan bersabar. Kemudian pasrah dalam berilmu dengan ikhlas. Siapa yang tidak memasuki amal dengan ilmu, maka ia jahil (bodoh).” (Hilyatul Auliya’, 8: 69).
Sufyan bin ‘Uyainah berkata,
ما شيء أضر عليكم من ملوك السوء وعلم لا يعمل به
“Tidak ada sesuatu yang lebih memudhorotkan kalian selain dari raja yang jelek dan ilmu yang tidak diamalkan.” (Hilyatul Auliya’, 7: 287).
‘Abdul Wahid bin Zaid berkata,
من عمل بما علم فتح الله له ما لا يعلم
“Barangsiapa mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari, maka Allah akan membuka untuknya hal yang sebelumnya ia tidak tahu.” (Hilyatul Auliya’, 6: 163).
Ma’ruf Al Karkhi berkata,
إذا أراد الله بعبد خيرا فتح الله عليه باب العمل وأغلق عنه باب الجدل وإذا أراد بعبد شرا أغلق عليه باب العمل وفتح عليه باب الجدل
“Jika Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba, Dia akan membuka baginya pintu amal dan akan menutup darinya pintu jidal (suka berdebat atau bantah-bantahan). Jika Allah menginginkan kejelekan pada seorang hamba, Dia akan menutup baginya pintu amal dan akan membuka baginya pintu jidal (suka berdebat)” (Hilyatul Auliya’, 8: 361).
Semoga Allah memberi kita taufik dalam ilmu dan amal.
Artikel Majalah Muslim.Or.Id

Sabtu, 23 November 2013

Bacalah Al Qurán dengan hati, bukan hanya sekedar dengan lisan

Imam Ahmad (A) pun ingin mengajarkannya cara mentadabburi al-Qur`an. Datanglah ia kepada muridnya itu, kemudian berkata: "Aku dengar kamu melakukan ini dan itu..?

Muridnya (M) menjawab: "Ya"

A: "Kalo gitu, coba nanti malam kamu lakukan seperti kemarin-kemarin, tapi saat membaca al-Qur`an, bayangkan kamu membacanya di hadapanku. Atau seakan-akan aku mengawasi bacaanmu.

Keesokan harinya, datanglah si murid, dan Imam Ahmad bertanya hasilnya. Si murid menjawab: "Aku hanya bisa membaca 10 juz saja"

A: "Coba nanti malam baca al-Qur`an seakan-akan kamu membacanya di hadapan Rasulullah SAW"

Keesokan harinya si murid datang lagi dan berkata: "Ya imam, aku hanya sanggup membaca juz 'amma saja"

A: "Nah sekarang, cobalah nanti malam kamu

baca al-Qur`an seakan-akan di hadapan Allah 'Azza wa Jalla"

Si murid pun kaget disuruh seperti ini.

Keesokan harinya, si murid datang dengan mata bengkak akibat dari menangis. Imam Ahmad pun bertanya: "Apa yg kamu lakukan anakku?"

Si murid menjawab sambil menangis: "Ya imam, demi Allah, sepanjang malam aku tidak bisa menyempurnakan bacaan surat al-Fatihah"

Resource : Khazanah Trans7 (Facebook)

Rabu, 20 November 2013

Mukjizat Shalat Dhuha

Assalamualaikum wr. wb

malem, kita share share sedikit yoo (^o^)...


Kalian tau kan apa itu shalat dhuha? ya! tepat Sholat dhuha atau sholat sunah dhuha merupakan sholat sunah yang dikerjakan pada waktu dhuha. Waktu dhuha merupakan waktu dimana matahari telah terbit atau naik kurang lebih 7 hasta hingga terasa panas menjelang shalat dzhur. atau sekitar jam 7 sampai jam 11, tentunya setiap daerah berbeda, tergantung posisi matahari pada daerah masing-masing. Sholat dhuha sebaiknya dikerjakan pada seperempat kedua dalam sehari, atau sekitar pukul sembilan pagi. Sholat dhuha dilakukan secara sendiri atau tidak berjamaah (Munfarid)
Bagaimana niat dan tata cara shalat dhuha?
Niat shalat dhuha :
Ushallii sunnatadh-dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa

arti dalam bahasa Indonesia :
Aku niat shalat sunat dhuha dua rakaat, karena Allah.

Tata cara sholat dhuha hampir sama dengan sholat sunah pada umumnya,
  1. Setelah membaca niat seperti yang telah tertulis diatas kemudian membaca takbir,
  2. Membaca doa Iftitah
  3. Membaca surat al Fatihah
  4. Membaca satu surat didalam Alquran. Afdholnya rakaat pertama membaca surat Asy-Syam  dan rakaat kedua surat Al Lail  
  5. Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali
  6. I’tidal dan membaca bacaannya
  7. Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali
  8. Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaanya
  9. Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali
  10. Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali. Rakaat-rakaat selanjutnya dilakukan sama seperti contoh diatas.

Apa manfaat mendirikan shalat sunnah dhuha?

Hadits Rasulullah Muhammad saw yang menceritakan tentang keutamaan shalat Dhuha, di antaranya:


1. Sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia

Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muahammad saw bersabda:

“Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala” (HR Muslim).

2. Ghanimah (keuntungan) yang besar

Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata:

Rasulullah saw mengirim sebuah pasukan perang.
Nabi saw berkata: “Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!”.

Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya).

Lalu Rasulullah saw berkata; “Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan cepat kembalinya?”

Mereka menjawab; “Ya!

Rasul saw berkata lagi:
“Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya.” (Shahih al-Targhib: 666)

3. Sebuah rumah di surga

Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi Muahammad saw:

“Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga.” (Shahih al-Jami`: 634)

4. Memperoleh ganjaran di sore hari

Dari Abu Darda’ ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw berkata:

Allah ta`ala berkata: “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya” (Shahih al-Jami: 4339).

Dalam sebuah riwayat juga disebutkan: “Innallaa `azza wa jalla yaqulu: Yabna adama akfnini awwala al-nahar bi’arba`i raka`at ukfika bihinna akhira yaumika”

(Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla berkata: “Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal hari, maka aku akan mencukupimu di sore harimu”).

5. Pahala Umrah

Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barang siapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah…” (Shahih al-Targhib: 673).

Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda:

“Barang siapa yang mengerjakan shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna..” (Shahih al-Jami`: 6346).

6. Ampunan Dosa

“Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (HR Tirmidzi)

Yaa...(∩_∩) diatas itu adalah pengertian dan keutamaan dari shalat dhuha, kita sudah tau manfaatnya lantas kenapa kita tidak mendirikannya? luangkanlah waktu istirahat pertama untuk mendirikan shalat sunnah dhuha. ^-^

sekian informasi dari kami, semoga menjadi renungan dan manfaat. wassalamualaikum wr. wb.

Selasa, 19 November 2013

Akun jejaring sosial lainnya

assalamualaikum, akhi ukhti selain blog kami juga eksis berkicau di twitter bagi yang belum follow. Segera follow

@RohisAlIshlah


nah, selain itu kami juga berdakwah dan saling mengingatkan di Facebook. "Add friend" kami di https://www.facebook.com/alishlah.rohis?refid=46

sekian dari kami, wabillahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum.

Masyaallah ! doákan selalu saudara muslim kita.

Tanpa Khilafah kaum Muslim kehilangan wibawa dan kekuatan, sementara para penguasa Muslim malah menjadi boneka yang membisu. Kaum kafir penjajah dengan leluasa terus menerus menghinakan Islam, umatnya dan tempat ibadahnya. Baru-baru ini, ekstrimis teroris Yahudi telah menyerang sebuah Masjid di Tepi Barat, merusak properti dan menodai kitab suci Islam, Al-Quran. Mereka membakar perpustakaan dan menulis pesan-pesan kebencian di dinding-dinding. Penjajah Israel tersebut menyerbu masjid suci di Utara Desa Yasuf di Kamis malam.
Setelah serangan semalam, warga Palestina berdemonstrasi sebagai protes atas serangan zionis Yahudi tersebut. Pasukan teroris Israel menembakkan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa yang marah.
Enam warga Palestina pingsan setelah menghirup gas air mata yang ditembakkan militer teroris Israel selama protes di Salfit timur, hari Jumat. Penduduk turun ke jalan-jalan di Tepi Barat utara desa setelah pemukim Israel membakar sebuah masjid. Tentara menembakkan tembakkan ketika massa tiba di dekat pemukiman Tapouh.

Menurut Abed Musleh Ar-Rahim, pemukim Yahudi merusak gerbang utama Masjid al-Kabir pada pukul 4 dini hari dan membakar bangunan lantai kedua. Mereka menghancurkan salinan al-Quran dan karpet yang berada di dalamnya.

Para pemukim zionis juga menulis pesan di lantai masjid dengan bahasa Ibrani yang berisi, "Kami akan membalas dendam kami" dan "Kami akan membakar kalian semua," kata pejabat.

Warga panik dan berusaha memadamkan api di masjid di pusat desa tersebut, rumah bagi 2.000 warga Palestina.

Daerah Tepi Barat bagian utara adalah tempat sejumlah pemukim Israel yang berhaluan paling keras yang membela kebijakan "pembalasan" dengan dasar itu mereka menargetkan warga Palestina untuk membalas setiap tindakan pemerintah Israel yang mereka anggap mengancam permukiman-permukiman Yahudi.

Militer Israel mengatakan "tampaknya para penyerang menulis pesan-pesan penuh kebencian dalam bahasa Yahudi selain membakar rak-rak buku dan sebuah karpet.

Insiden brutal ini merupakan terbaru dalam serangkaian kekerasan anti-Muslim, yang juga setelah melihat penggusuran warga Palestina oleh pemukim Yahudi Israel di Tepi Barat.
Pekan lalu sebuah rumah dan tiga kendaraan dibakar di sebuah desa lain juga dekat kota Nablus, Tepi Barat utara. Pemilik rumah itu mengemukakan kepada polisi ia melihat tiga pemukim Yahudi mulai membakar di masjid itu.
Penjajahan Yahudi Israel terjadi setelah kekuatan kaum Muslim berhasil dibubarkan. Pada tahun 1947, Israel yang dibantu PBB merampas tanah milik kaum Muslim tersebut. Hingga kini, kaum Muslim Palestina menderita. Sementara, para penguasa Muslim diam membisu. Di Palestina sendiri, dibentuk penguasa boneka bentukan Barat yang terus menerus menyebarkan kerusakkan atas kaum Muslim.
Kaum Muslim hanya membutuhkan Khilafah Rasyidah yang akan menyatukan kaum Muslim dunia dan mengerahkan pasukan tentara-tentaranya untuk membaskan Palestina dari cengkraman zionis Israel dan membebaskan negeri-negeri Muslim lainnya dari cengkraman penjajah Barat. Sudah saatnya, kaum Muslim berjuang untuk mewujudkannya. 


sumber :http://www.syabab.com/akhbar/ummah/747-teroris-yahudi-israel-bakar-masjid-dan-menodai-al-quran-di-tepi-barat.html

Divisi Media Siyiar


ini adalah akh Raden Muhammad (mantan dari divisi media syiar) dan akh Rendana (Ketua umum Rohis 2013)  saat masa pelantikan Rohis Al-islah tahun 2013.